Pesan Keseimbangan Alam di Balik Megahnya Pesta Rakyat “Narasimha” Sambirejo
Kalurahan Sambirejo menyelenggarakan Pesta Rakyat “Narasimha” pada Jumat, 23 Januari 2026 di Panggung Tlatar Seneng, kawasan wisata Tebing Breksi. Kegiatan ini merupakan ajang apresiasi seni budaya sekaligus media edukasi bagi masyarakat mengenai nilai keseimbangan hidup, pelestarian lingkungan, dan penguatan kearifan lokal.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh masyarakat seni Kalurahan Sambirejo dengan melibatkan delapan kelompok kesenian desa, yang menampilkan karya tari kreasi dan tari kerakyatan berbasis tradisi lokal. Pesta Rakyat “Narasimha” juga menjadi penanda awal lahirnya gagasan program seni desa berkelanjutan bertajuk Sendra Tanah Jawi.
Pesta Rakyat “Narasimha” bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas seniman lokal, memperkaya pemahaman masyarakat tentang kisah Narasimha sebagai simbol penjaga keseimbangan dunia, serta menyampaikan pesan moral tentang pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Rangkaian pementasan disajikan secara tematis dan berurutan, dimulai dari adegan pembuka yang menggambarkan kehidupan anak-anak desa Sambirejo hingga berakhir pada kemenangan Narasimha atas kejahatan. Pembuka dibawakan oleh Sanggar Unggah-Ungguh yang menghadirkan suasana permainan anak-anak desa sebagai pengantar cerita. Adegan kemudian berlanjut pada kisah pertapaan Hiranyakashipu yang diperankan oleh Turonggo Mulyo Gedang, diikuti adegan pemberian anugerah oleh Dewa Brahma dan munculnya sifat angkuh Hiranyakashipu yang dibawakan oleh Turonggo Kudho Song Pace.
Cerita semakin berkembang melalui adegan pawiyatan yang memperlihatkan Resi Narada mengajarkan kebajikan kepada Prahlada dan teman-temannya oleh Sanggar Laksita Krida. Konflik memuncak saat Hiranyakashipu murka terhadap anaknya sendiri dalam adegan yang dibawakan Turonggo Mudho Candi Barong, dilanjutkan dengan upaya penghukuman Prahlada dan kehancuran bangunan sebagai simbol amarah yang tak terkendali oleh Turonggo Mudho Gupolo.
Pengenalan sosok Narasimha sebagai avatara Wisnu ditampilkan oleh Seniman Muda Sambirejo bersama Sanggar Qinanty, sebelum memasuki klimaks berupa pertempuran antara Narasimha dan Hiranyakashipu yang dipentaskan oleh Turonggo Satrio Mudho. Adegan penutup menggambarkan runtuhnya kejahatan dan kembalinya keseimbangan dunia secara simbolis.
Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara partisipatif, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, ketertiban, serta kelestarian lingkungan sekitar Tebing Breksi. Antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir menunjukkan tingginya apresiasi terhadap seni budaya lokal yang dikemas secara kreatif dan edukatif.
Melalui Pesta Rakyat “Narasimha”, Pemerintah Kalurahan Sambirejo berharap seni dan budaya desa dapat terus berkembang serta menjadi bagian penting dalam pembangunan kalurahan yang berkelanjutan, berakar pada nilai-nilai kearifan lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin